Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengganti Uang Kembalian dengan Permen, Bolehkah?

Mengganti Uang Kembalian dengan Permen, Bolehkah?

Kang Rijal, Kemarin saya belanja di supermarket harganya Rp 9.900,-. Saya membayar dengan uang Rp 10.000,-. Kemudian saya menerima barang yang saya beli sekaligus permen untuk kembalian.

Pertanyaan

Bagaimana sudut pandang fiqh menyikapi pengembalian dengan permen tersebut ?

Jawaban

Boleh dengan syarat ada pernyataan kerelaan. Jika tidak ada pernyataan, maka tetap boleh menurut pendapat Imam Al-Adzroi dengan syarat tetap legowo/ridlo.

 

(وصح استبدال ولو في صلح عن دين غير مثمن بغير دين) كثمن في الذمة (ودين قرض وإتلاف) ـ ـ (قوله وصح استبدال إلخ) بشرط أن يكون الاستبدال بإيجاب وقبول وإلا فلا يملك ما يأخذه قاله السبكي وهو ظاهر وبحث الأذرعي الصحة بناء على صحة المعاطاة ا هـ


Istibdal dapat sah meskipun dalam permasalahan shuluh, atas tanggungan selain berupa barang yang dibeli dengan selain hutang (cash), seperti pada harga barang yang masih dalam tanggungan dan tanggungan hutang dan tanggungan karena telah merusak barang.” “Keabsahan istibdal ini dengan syarat wujudnya ucapan serah terima. Jika tidak terdapat ucapan demikian maka seseorang tidak dapat memiliki barang yang diambil olehnya (dari orang lain). Penjelasan demikian seperti yang disampaikan oleh Imam as-Subki, dan hal tersebut dianggap jelas. Namun Imam al-Adzra’i berpandangan bahwa istibdal tetap sah dengan berpijak pada pendapat yang melegalkan mu’athah. (Syeikh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyatul Jamal, Juz 11, Halaman 229)

(والحاصل) المعاطاة: هي أن يتفق البائع والمشتري على الثمن والمثمن، ثم يدفع البائع المثمن للمشتري، وهو يدفع الثمن له، سواء كان مع سكوتهما، أو مع وجود لفظ إيجاب أو قبول من أحدهما، أو مع وجود لفظ منهما لكن لا من الالفاظ المتقدمة 


Kesimpulan. Mu’athah adalah sepakatnya penjual dan pembeli atas harga dan barang yang dihargai lalu penjual memberikan barang pada pembeli dan pembeli memberikan nominal uang pada penjual. Baik keadaan mereka berdua sama-sama diam ataupun terdapat ucapan serah terima dari salah satu dari penjual dan pembeli, atau terdapat perkataan dari keduanya namun bukan berupa perkataan yang biasa terlaku dalam jual beli. (Sayyid Abi Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha’, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 3, hal. 8)

[النووي، المجموع شرح المهذب، ١٦٣/٩]

(فَرْعٌ) صُورَةُ الْمُعَاطَاةِ الَّتِي فِيهَا الْخِلَافُ السَّابِقُ أَنْ يُعْطِيَهُ دِرْهَمًا أَوْ غَيْرَهُ وَيَأْخُذَ مِنْهُ شَيْئًا فِي مقابلته وَلَا يُوجَدُ لَفْظٌ أَوْ يُوجَدُ لَفْظٌ مِنْ أَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ فَإِذَا ظَهَرَ وَالْقَرِينَةُ وُجُودُ الرِّضَى مِنْ الْجَانِبَيْنِ حَصَلَتْ الْمُعَاطَاةُ وَجَرَى فِيهَا الْخِلَافُ وَقَدْ صَرَّحَ بِهَذَا التَّصْوِيرِ الْمُتَوَلِّي كَمَا قَدَّمْنَاهُ عَنْهُ وَكَذَا صَرَّحَ بِهِ آخَرُونَ


Contoh dari jual beli secara mu’athoh yang terjadi perbedaan pendapat di atas ialah : semisal jika orang itu memberikan uang dan ia mengambil barang sedagai gantinya. Dan tidak ada kalimat yang menayatkan ijab qobul. Maka jika secara dhohir ada kerelaan diantara keduanya (pembeli dan penjual) maka itulah yang dinamakan jual beli secara mu’athoh yang mana keabsahannya terjadi khilaf. (Imam Nawawi, Majmu’ Syarah Muhadzab, Juz 9, halaman 163-164).